Selasa, 28 Oktober 2008

BUDIDAYA JANGKRIK

Ada dua cara budidaya jangkrik, yakni dari telur atau bibit indukan. Bagi pemula, tinggal mana yang disukai. Soal jumlah, bisa satu kandang, dua atau empat kandang, tergantung besar modalnya.
1. Bibit telur
Bibit telur jangkrik bisa dibeli dari pedagang jangkrik di pasar burung. Tidak ada jaminan telur menetas semua, paling 70%, atau bahkan tidak menetas. Telur yang bagus berwarna putih atau kekuning-kuningan, tak ada flek hitam di tengah (tanda telur mati). Yang bengkok atau hitam semua, jelek. Kalau hitamnya hanya di ujung, telur itu sudah tua, mau menetas.
Penetasan.
Telur yang sudah terbungkus kain lembap diletakkan dalam wadah penetasan, semisal toples. Umur telur yang dijual di pasar bervariasi, mulai dari H-2 (kurang dua hari menetas), H-3 (kurang tiga hari), atau H-4 (kurang empat hari menetas), dst. Telur menetas kurang lebih 8 - 10 hari sejak dipanen.
Anak-anak jangkrik yang baru menetas berwarna terang dan berubah menjadi hitam atau kecoklatan beberapa jam kemudian. Kalau ada yang menetas, kain harus segera dibuka, dan anak jangkrik "diusir" keluar dari kain itu. Kalau tidak, anakan itu bisa mati atau saling memakan sesamanya, atau memakan telur yang belum menetas.
Tunggu sampai 2 - 4 hari setelah menetas. Kalau telur belum juga habis, mungkin masih ada telur yang belum saatnya menetas, telur mati atau busuk. Telur mati berwarna coklat mengkilap atau hitam berjamur. Kalau telur berjamur atau busuk, pertanda kelembapannya terlalu tinggi. Sebaliknya, terlampau kering, telur akan mati.
Pakan sayuran.
Pakan jangkrik baru menetas berupa sayuran seperti sawi, bayam, kangkung, gambas, wortel atau kulit wortel, kulit pisang, dll. Wortel, timun, atau sayuran berair dipotong-potong sebesar batang korek api, supaya anak jangkrik tidak menempel di permukaannya yang basah dan mati. Juga jangan sampai terkena percikan air, karena bisa mematikan anak jangkrik yang baru menetas.
Untuk anak jangkrik muda, pakan diberikan sehari sekali, pagi atau sore. Sebelum dikasih pakan baru, sisa pakan sebelumnya diangkat dulu.
Kandang pembesaran.
Setelah berumur lebih dari 10 hari, anak jangkrik bisa diberi pakan tambahan berupa ramuan. Pakan ramuan ditaruh dalam wadah agak datar, seperti tatakan gelas/cangkir. Penempatannya di ujung-ujung kandang. Meskipun sudah diberi pakan ramuan, sayuran tetap diberikan. Ramuan itu bisa berupa campuran tepung kedelai, tepung beras merah, tepung kacang hijau, tepung jagung, dan tepung ikan.
Tidak perlu disediakan minum. Dedaunan jangan disemprot air karena bisa bikin tubuh jangkrik lembek dan cepat mati.
Umur 10 hari ke atas, anak jangkrik bisa dibesarkan di alam (bila ingin menghasilkan indukan alam). Atau, mereka bisa dipindah dari stoples ke kandang pembesaran berukuran 90 cm (panjang) x 30 cm (lebar) x 60 cm (tinggi). Bisa juga pakai drum bekas. Ukuran kandang tidak baku, bisa lebih besar atau lebih kecil, tergantung jumlah jangkrik. Yang penting kandang aman dari semut, tikus, dan cicak. Kandang tidak tercemar bebauan bahan kimia yang bisa mematikan jangkrik.
Panen clondo atau indukan.
Umur 30 - 40 hari, anak jangkrik tumbuh menjadi clondo atau dogolan (jangkrik muda). Clondo bisa dipanen dan dijual sebagai pakan burung dan ikan arwana.
Kalau belum ingin menjual, clondo bisa terus dipelihara untuk dijadikan indukan. Kira-kira berumur 2 - 4 bulan. Indukan ini bisa dijual atau dijadikan bibit untuk menghasilkan telur.
2. Bibit indukan
Bibit indukan dijual di pasar burung. Indukan yang bagus berpantat panjang, hitam atau coklat kehitaman, dan "jarumnya" juga sudah hitam. Biasanya jangkrik punya tanda "kalung" di "leher". Sepasang harganya Rp 1.000,- - Rp 1.500,-. Pilih jangkrik dengan sungut (antena) masih lengkap.
Kandang indukan.
Kandang bisa dibuat sendiri dari bahan kayu dan tripleks. Atau membeli kandang jadi, harganya Rp 150 ribu - Rp 200 ribu. Ukuran kandang 90 - 120 cm (panjang) x 30 cm (lebar) x 60 cm (tinggi), tergantung jumlah jangkrik.
Pakannya sama seperti jangkrik dewasa yakni pakan ramuan dan dedaunan. Bisa pula diberi taoge, jagung muda, dan vitamin khusus jangkrik yang disemprotkan pakai semprotan ke sayuran supaya menghasilkan banyak telur.
Tempat bertelur.
Perbandingan jantan dan betina 1 : 5 (ada juga 1 : 10). Ada kalanya makin kecil rasionya, hasil telur makin banyak. Karena seekor betina bisa dibuahi berkali-kali oleh banyak pejantan.
Di alam, jangkrik betina yang akan bertelur menyuntikkan ujung "jarumnya" (ovipositor) ke celah-celah tanah lembap. Oleh karena itu, dalam budidaya jangkrik kelembapan perlu dijaga.
Untuk sarang bertelur, dalam kandang disediakan media pasir halus dalam wadah ceper (tatakan cangkir) dengan kedalaman 1,5 - 2 cm. Pasir dicuci bersih atau disangrai dulu. Jangkrik akan menusukkan "jarumnya" berulang-ulang ke dalam media pasir. Jumlah telur kira-kira 150 - 300 butir per ekor. Media bertelur bisa juga dari tumpukan kain berpori kasar (single setting) yang dilembapi.
Setelah bertelur, jangkrik betina kehabisan energi dan 15 - 30 hari kemudian mati. Ada juga jangkrik betina yang kuat dan dapat kawin lagi setelah periode bertelur pertama. Hanya saja mutu telurnya kurang bagus.
Panen telur.
Untuk memanen telur dalam media pasir, perlu diayak dan telur akan tertinggal di ayakan. Kalau medianya kain, telur-telur yang menancap pada pori-pori kain disapu pakai kuas kecil supaya terlepas.
Telur yang sudah dipanen diletakkan di atas sepotong kain lembap kemudian kain dilipat, dan diberi catatan tanggal bertelur supaya usia telur diketahui. Telur-telur yang terbungkus kain lembap itu disimpan dalam stoples dan siap dijual sebagai bibit atau ditetaskan sendiri. (Rye)
Join our mailing list!
BUDI DAYA jangkrik selama ini masih dipandang sebelah mata banyak orang. Namun, siapa menyangka dari ternak itu ternyata bisa menghasilkan keuntungan lumayan.
Lihat saja apa yang dilakukan puluhan peternak jangkrik yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Jangkrik Indonesi (Aspeji) di Brebes. Mereka dalam satu bulan bisa memperoleh keuntungan ratusan ribu rupiah.
Bagaimana mereka menjalankan bisnisnya tersebut? Abdul Syukur (40), warga Kelurahan Pasarbatang mengatakan, tidak serumit orang memelihara ayam atau udang windu. Pemeliharaannya relatif mudah dan tidak membutuhkan tempat luas. Selain itu juga tidak membutuhkan tenaga ekstra.
"Mudah saja. Kita hanya membutuhkan kandang jangkrik yang terbuat dari bahan kardus bekas. Asalkan tidak berlubang, dalam kurun waktu 30 hari kita sudah panen. Dan, satu kardus mampu menampung 2.000 ekor," tuturnya.
Tak heran, jika di rumah milik Abdul Syukur yang juga merupakan anggota Aspeji itu dipenuhi puluhan kardus berisi jangkrik berbagai umur.
Tiap kardus tersebut diberi lampu penerang. Lampu tersebut sengaja dipasang untuk menyesuaikan cuaca. "Bila dingin kami hidupkan lampunya untuk penghangatan. Kalau sudah panas, tidak usah menggunakan lampu," tutur dia didampingi istrinya, Rohaini (34).
Bagi keluarga Abdul Syukur, berternak jangkrik bisa menjadi hobi tersendiri sekaligus bisa menambah penghasilan. Adapun dalam pemeliharaannya, dia hanya menyediakan sayur-sayuran untuk pakan.
"Sudah itu saja. Cuma harus sering mengecek kondisi kandang agar jangkrik tidak keluar dari lubang sekecil apa pun," katanya.
Empat Kali
Saat ditanya tentang penghasilan, dia menuturkan, dalam satu bulan dapat memanen jangkrik empat kali. Dengan modal satu ons telur, rata-rata menghasilkan 10 kg. "Untuk bibit telur dan penjualannya kami menyerahkan ke Aspeji. Harga jual satu kilogram jangkrik Rp 25.000. Rata-rata satu bulan kami bisa mengambil untung Rp 750.000 dan Rp 1 juta."
Lantas ke mana saja binatang itu dipasarkan? Ketua Aspeji Didi Amin mengemukakan, bisnis ikan hias dan burung menjadikan peluang anggotanya untuk menjual jangkrik sebagai pkan pokok binatang tersebut. Hasil budi daya anggota dipasarkan ke wilayah kota besar seperti Bandung, Jakarta, Bogor, Semarang, dan Cirebon. "Bahkan, saat ini kami sedang kekurangan stok dari daerah sekitar seperti Purwokerto, Bumiayu, dan Tegal," ungkapnya.
Dia menyebutkan, sebagian besar jangkrik tersebut untuk pakan burung dan ikan hias.
"Ya, saya berani katakan bisnis jangkrik ini lebih menjanjikan ketimbang memelihara ayam atau udang windu. Selain faktor teknis yang relatif mudah, juga permintaan pasar sekarang ini sedang tinggi," paparnya.
Kendati demikian, ujar Didi Amin, dari jumlah anggota sejak dibentuk lima tahun lalu 135 orang, kini tinggal 40 orang. Kendalanya, beberapa anggota Aspeji itu tidak mampu memenuhi target minimal memiliki kandang 50 buah.
"Ini memang saya berlakukan agar tidak terjadi booming di tengah masyarakat. Secara periodik kami memantau perkembangan bisnis mereka dengan ketentuan pemasaran satu pintu, yakni lewat asosiasi sekaligus melakukan pembinaan," tuturnya.(Dwi Ariadi-42j)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar